Thursday, September 17, 2020

>> Klarifikasi Mengapa Kita Tidak Mempunyai Kenangan Pada Kala Balita

Kebanyakan dari kita tidak dapat mengenang kehidupan di usia empat tahun pertama. Bahkan, faktanya kita cuma mengenang sedikit saja ihwal masa-masa sebelum usia 7 tahun.

Ketika kita menjajal mengenang kehidupan permulaan selaku balita, kadang-kadang tidak terang apakah itu kenangan yang konkret atau kita cuma menghimpun kembali apa yang diceritakan orang lain ihwal kita atau dari foto-foto.

Fenomena tersebut disebut juga dengan "amnesia masa kecil". Para ilmuwan sejak usang berupaya memecahkan misteri ini, dan hingga ketika ini belum ada klarifikasi yang mencerahkan. Salah satu teori menyebut, kita tidak dapat mengenang masa bayi dan balita alasannya di usia ini memang belum terbentuk memori yang utuh. Walau begitu, bayi berusia 6 bulan bisa memiliki memori jangka pendek.

Ingatan pada bayi cuma bertahan satu menit, dan dalam jangka panjang cuma dalam hitungan ahad atau bulan. Dalam suatu penelitian, bayi berumur 6 bulan yang belajar bagaimana menekan pengungkit mainan kereta-keretaan bisa mengenang lagi cara kerja mainan ini tiga ahad kemudian.

Pada anak usia prasekolah, mereka bisa mengenang insiden satu tahun sebelumnya. Tetapi masih diperdebatkan apakah memori jangka panjang di usia dini memang sesuatu yang memang terkait dengan waktu dan kawasan secara akurat. Menurut Jeanne Shinskey, dosen senior bidang psikologi dari Royal Holloway Universitas London, kesanggupan memori anak berusia tiga tahun memang tak seumpama pada orang dewasa, alasannya masih terus berkembang.

"Perubahan-perubahan pada masa perkembangan yang juga terjadi pada otak, mungkin bisa menerangkan mengapa kenangan masa kecil menghilang," katanya.

Perkembangan yang juga terjadi pada bagian-bagian otak ini tergolong pembentukan, mempertahankan, dan mengambil kembali memori. Misalnya saja, hipocampus yang bertanggung jawab pada pembentukan memori, masih meningkat hingga usia 7 tahun.

Selain itu, aspek bahasa juga berperan. Di usia satu hingga enam tahun, bawah umur mengalami perkembangan bahasa yang pesat, dari satu dua kata menjadi sungguh fasih bicara. Perkembangan yang pesat pada kesanggupan mulut ini tumpang tindih dengan periode amnesia masa kecil. Misalnya saja penggunaan kata-kata lampau, sehingga anak sering keliru mengenang hal yang terjadi ahad kemudian atau kemarin.

Para jago mengatakan, memori sebelum usia bicara akan hilang jikalau tidak diungkapkan dalam bahasa. Dalam penelitian, bayi berusia 2,5 tahun yang secara mulut bisa menceritakan suatu insiden akan tetap mengingatnya hingga 5 tahun kemudian.

Shinskey mengatakan, kebiasaan bercerita dari orangtua juga bisa menolong anak mengingat.

"Cerita dalam keluarga bisa menjaga kenangan anak dan juga mengembangkan kesanggupan naratif, merupakan mengenang insiden kronologis. Semakin runut ceritanya, semakin mudah diingat," katanya.

Faktor budaya ikut kokoh pada terbentuknya kenangan masa kecil. Orang sampaumur di lingkungan budaya yang lebih menghargai kemandirian (Amerika Utara, Eropa), condong memiliki kenangan masa kecil lebih baik dibanding dengan orang sampaumur yang dibesarkan dalam budaya yang menghargai kekerabatan (Asia dan Afrika).

Dalam budaya yang lebih menonjolkan kemandiran, orangtua akan lebih banyak menceritakan ihwal kesanggupan individu anak, pengalaman, perasaan, namun lebih minim ihwal korelasi dengan orang lain atau aktivitas rutin sosial. Sebagai contoh, bawah umur di Amerika mungkin lebih mengenang mereka memperoleh bintang emas dari gurunya di kelas playgroup, sementara anak di China mengenang mereka belajar bernyanyi bareng di kelas.

Memang masih banyak hal yang belum diketahui dalam amnesia masa bawah umur ini, namun hasil observasi modern terus mengalami kemajuan. Shinskey mengatakan, walau kita tidak dapat dengan terang mengenang insiden ketika usia balita, namun masa-masa tersebut meninggalkan jejak kokoh dan memengaruhi sikap kita ketika ini.
(sumber)

0 comments:

Post a Comment