Wednesday, October 21, 2020

>> Ambil Langkah-Langkah Evakuasi Sebelum 4,5 Jam Jikalau Alami Tanda-Tanda Stroke Dengan Langkah-Langkah Ini

Siapa saja yang mengalami tanda-tanda stroke-meski ringan-harus secepatnya tiba atau dibawa ke tempat tinggal sakit dengan akomodasi pemindaian tomografi terkomputasi (CT scan) sebelum 4,5 jam. Jika terlambat, stroke dapat berujung kecacatan, bahkan kematian.

Menurut dokter seorang andal saraf RS jantung Diagram, Siloam Hospitals Group, Poppy Chandradewi, dipahami transient ischaemic attack (TIA), yakni tanda-tanda stroke sesaat dan ringan yang pulih sendiri kurang dari 24 jam, sekilas baik, sehingga penderita menganggapnya aman. Padahal, itu menunjukan serangan lebih serius dapat tiba lagi.

"Segera ke UGD (unit gawat darurat) di rumah sakit di saat TIA," kata Poppy, Sabtu (23/7), di Jakarta, dalam Forum Diskusi Kesehatan kolaborasi harian Kompas dan RS Siloam bernuansa "Kenali dan Atasi Gejala Stroke".

Pembicara lain yakni Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia M Kurniawan dan Kepala Subdirektorat Penyakit jantung dan Pembuluh Darah Kementerian Kesehatan Zamhir Setiawan.

Poppy mengatakan, satu saja tanda-tanda stroke timbul mesti secepatnya ditanggapi dengan menenteng penderita ke UGD RS. Periode emasnya 4,5 jam sebelum makin sukar ditolong tenaga medis.

"Kalaupun 4,5 jam terlewat, paling usang delapan jam," kata M Kurniawan.

FAST, kependekan dari face (wajah), arm (lengan atau anggota gerak), speech (bicara), dan time (waktu), bisa menjadi tutorial awam mengerti dan cepat tanggap setidaknya pada tiga tanda-tanda biasa stroke. Gejala itu, lisan mencong; anggota gerak tiba-tiba lemah, umpamanya tangan tiba-tiba sukar mengangkat gelas atau berlangsung dengan kaki diseret; dan bicara cadel atau pelo.

Stroke ialah gangguan saraf tiba-tiba yang menyerang pembuluh darah di otak, bahkan dapat pada pembuluh darah retina mata. Poppy menjelaskan, pasokan darah menuju otak menjadi tidak tanpa gangguan alasannya pembuluh darah tersumbat atau pecah. Kondisi itu menghasilkan sel-sel otak kelemahan oksigen dan nutrisi sehingga dapat berujung keanehan permanen sampai kematian.

Berdasarkan Sample Registration System Indonesia 2014, stroke penyebab nomor satu maut semua umur, meliputi 21,1 persen kematian. Ini mengalahkan maut akhir jantung koroner (12,9 persen) dan diabetes melitus dengan komplikasi (6,7 persen).

Kesadaran rendah
Penyakit stroke telah dipahami lama. Namun, kata M Kurniawan, kesadaran publik untuk sesegera mungkin menenteng penderita tanda-tanda stroke ke RS masih rendah. Di RS Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo, kawasan Kurniawan berpraktik, misalnya, dari sekitar 300 pasien stroke per tahun selama 2012-2015, kurang dari 10 persen yang tiba sebelum 4,5 jam.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, prevalensi (sebaran) stroke 8,3 per mil (per 1.000 penduduk), kemudian menjadi 12,1 per mil dalam Riskesdas 2013. "Meningkat 50 persen cuma dalam enam tahun. Ini duduk kasus serius di Indonesia," ujar Kurniawan.

Faktor risiko utama stroke yakni hipertensi (tekanan darah tinggi) dan diabetes. Karena itu, Zamhir mengatakan, Kemenkes menghasilkan kebijakan untuk terus membangkitkan kesadaran publik untuk berpola hidup sehat. "Perilaku yakni yang paling sukar diubah," ujarnya.

Kemenkes juga mendorong pemberdayaan penduduk membentuk pos training terpadu penyakit tidak menular (posbindu PTM) di semua desa dengan kegiatan deteksi dini penyakit dan pemantauan faktor-faktor risikonya. Target Kemenkes, posbindu dibikin di 30 persen desa di Indonesia pada 2017. Stroke bukan lagi bahaya penduduk kota saja.
(sumber)

0 comments:

Post a Comment