Thursday, October 1, 2020

>> Di Iran, Warga Yang Punya Parabola Didenda Rp.30 Juta, Ini Alasanya

Pemerintah Iran kerumitan memerangi maraknya satelit parabola. Kendati sudah tidak boleh dan dicap selaku susukan propaganda asing, penduduk tetap mengabaikan hukum tersebut.

Pemerintah Iran tamat Juli 2016 memanggil jurnalis buat melihat pemusnahan 100.000 satelit parabola. Negeri para mullah itu melarang warganya menonton siaran televisi asing. Tapi banyak penduduk yang mengabaikan larangan tersebut. Sebab itu pegawapemerintah pemerintah mengerjakan razia secara rutin

Pemerintah sengaja melibatkan wartawan dari media-media pelat merah buat melaporkan proses pemusnahan parabola. Untuk itu pemerintah seringkali menggunakan kendaraan lapis baja untuk bikin imbas bombastis

Jendral Mohammed Reza Nagdi, Kepala Milisi Basij, mewanti-wanti dalam suatu program pemusnahan di Teheran kepada "pengaruh busuk" stasiun televisi aneh yang sanggup menghancurkan "budaya dan akhlak masyarakat." Menurutnya siaran mancanegara bertanggungjawab atas "meningkatnya perceraian, penyalahgunaan narkoba dan buruknya suasana keamanan" di Iran.

Tapi perayaan itu sering diabaikan sebagian penduduk Iran. Piringan parbola sanggup didapatkan di nyaris setiap atap rumah di Teheran. Padahal siapapun yang kedapatan menggunakan parabola, memasarkan atau memperbaiki, sanggup memperoleh eksekusi denda sampai 30 juta Rupiah.

Namun begitu larangan menggunakan parbola sampai sekarang masih mengakibatkan pro dan kontra di Iran. Presiden Hassan Rohani misalnya menganggap hukum tersebut tidak dikehendaki dan kontra produktif. Meski begitu setiap penduduk yang memiliki parabola setiap dikala mesti siap dihadiri pegawapemerintah kepolisian

Sebagian penduduk menyikapi agresi razia kepolisian dengan ironi. Seorang pengguna Twitter misalnya menulis "parabola atau apapun juga hanya alasan. Mereka hanya mencari argumentasi untuk menyerbu rumah kita. Itu merupakan permainan kesukaan mereka."

Menteri Kebudayaan Iran, Ali Jannati, pekan kemudian mendesak dewan legislatif untuk mencabut larangan tersebut, alasannya merupakan menurutnya "70 persen penduduk Iran" menggunakan satelit parabola. Ia berkelit banyak warga yang hanya ingin menonton siaran televisi berbahasa Farsi yang dibuat di luar negeri.

Seringkali pegawapemerintah menggambar bendera Israel, Inggris atau Amerika Serikat pada piringan satelit yang hendak dimusnahkan. Menurut pemerintah kedua negara merupakan sumber paling besar siaran televisi yang sanggup menghancurkan budaya dan nilai Islam.

Tapi upaya pemerintah memerangi piringan satelit terbentur realita. Pasalnya penduduk sanggup berbelanja piringan bekas dengan murah dan mudah. "Kitab mengatakan tentang Undang-undang yang oleh nyaris semua pihak diabaikan," tulis seorang pengguna Twitter asal Iran.
(sumber)

0 comments:

Post a Comment