Thursday, October 29, 2020

>> Obesita Pada Anak Jangan Dianggap Lucu, Ini Bahayanya

Ahli Gizi Rumah Sakit PMI Bogor, Jawa Barat, dr Niken Churniadita K mengingatkan orang renta untuk meragukan obesitas pada anak dengan memperhatikan asupan masakan dan gaya hidupnya semenjak usia dini.

"Mengenalkan pola makan sehat semenjak dini menyeleksi gaya hidup anak di masa depannya," kata Niken di Bogor, Senin (25/7).

Sebagai contoh, lanjutnya, kasus obesitas yang terjadi pada bocah Arya Permana (10) menjadi pelajaran bermanfaat bagi orang renta untuk memperhatikan pola makan dan gaya hidup anak-anaknya semenjak dini.

"Kadang kita lengah, anak obesitas dinilai lucu, menggemaskan. Padahal, ini cikal bakal timbulnya penyakit metabolik," katanya menyerupai dikutip Antara.

Menurut Niken, obesitas baik pada anak maupun sampaumur cukup berbahaya, alasannya menyebabkan penyakit metabolik yakni mempengaruhi metabolisme badan menyerupai keistimewaan karbon sanggup menyebabkan diabetes, keistimewaan lemak dalam badan menyebabkan jantung, tekanan darah tinggi atau hypertensi, dan stroke.

"Semua jenis penyakit ini riskan sanggup menyebabkan kematian," katanya.

Ia mengatakan, salah satu penyebab obesitas yakni pola makan dan gaya hidup yang tidak menyanggupi kriteria kesehatan. Kondisi ketika ini, penduduk begitu gampang mendapat masakan cepat saji, dengan meningkatnya sosial ekonomi, efek iklan masakan mendorong minat untuk mendapat masakan yang diinginkan.

Aksesibilitas mendapat masakan dengan menjamurnya kedai makanan cepat saji, pedagang ayam goreng kriteria kaki lima yang sekarang disukai penduduk kelas menengah ke bawah.

Padahal, lanjut dia, belum pasti semua jenis masakan yang tersaji di kedai makanan cepat saji maupun daerah masakan baik untuk kesehatan.

"Contohnya masakan cepat saji itu, yang dibikin dari bahan-bahan olahan menyerupai tepung, porsinya dibentuk besar, dosis protein, karbon maupun kalorinya melampaui batas yang diperbolehkan, semua mempunyai kesempatan menyebabkan lemak," katanya.

Dengan gaya hidup ketika ini, banyak anak muda nongkrong di cafe atau kedai makanan cepat saji, menghabiskan waktu duduk beberapa jam sambil mengonsumsi minuman bersoda atau kafein yakni gaya hidup yang tidak sehat.

"Kalau telah ditambah dengan merokok dan mengonsumsi alkohol, gaya hidup menyerupai ini makin tambah parah," katanya.

Gaya hidup sehat disokong dengan aktif bergerak atau berolahraga. Bagi pekerja kantoran, acara olahraga kerap terlalaikan alasannya minimnya waktu luang yang tersedia.

"Selama melakukan pekerjaan pada biasanya duduk, tidak aktif bergerak, maka asupan masakan yang kita konsumsi tadi tidak terolah dengan baik maka akan menjadi lemak," katanya.

Mencegah obesitas, lanjutnya, sungguh mudah, diperlukan janji dan kemauan yang mempunyai pengaruh untuk mengerjakan gaya hidup yang sehat dengan makan gizi seimbang.

"Olah raga terencana tidak mesti ngegym. Dengan menawarkan waktu bergerak entah itu naik turun tangga atau berlangsung kaki selama 30 menit tanpa jeda itu sama dengan olah raga. Asal tidak ada jeda, berkesinambungan selama 30 menit setiap hari," katanya.

Niken menambahkan, banyak pasien obesitas yang tiba ke RS PMI telah dibarengi dengan penyakit penyertanya menyerupai diabetes, hipertensi dan gangguan lainnya.

"Yang tiba tidak hanya usia lanjut, ada juga yang masih muda. Alasan kenapa mereka obesitas sama, alasannya pola makan tidak sehat dan gaya hidup yang tidak sehat juga," katanya.
(sumber)

0 comments:

Post a Comment