Sunday, December 6, 2020

>> Perbedaan Vitamin Dari Masakan Dan Vitamin Dari Suplemen

Walau kita memerlukan vitamin dalam jumlah sungguh sedikit, mungkin ratusan gram, namun vitamin berfungsi sungguh besar dalam berjalannya fungsi-fungsi dalam tubuh.

Tubuh insan tidak sanggup menciptakan vitamin sendiri, sehingga kita mesti menerimanya dari luar, merupakan masakan yang kita asup. Menurut Catherine Price, jurnalis science, bergotong-royong badan memiliki gen untuk memproduksi vitamin C, namun terjadi mutasi yang menghalangi proses tersebut.

"Seperti halnya otot yang hendak berkurang jikalau telah usang tidak digunakan, mutasi ini kemungkinan terjadi akhir banyaknya suplai vitamin C yang tersedia dalam buah-buahan," katanya dalam tulisannya Vitamania: Our Obsessive Quest for Nutritional Perfection.

Saat komplemen vitamin pertama kali dibuat, sekitar tahun 1920-1930-an, pada lazimnya produk berasal dari ekstrak tanaman alami. Misalnya untuk mendapat minyak ikan kod, ikan itu dibiarkan terapung di air hangat hingga minyaknya yang kaya vitamin timbul di permukaan kemudian diambil. Sementara itu vitamin C biasanya berasal dari tanaman Rose Hips.

Tetapi kini ini, walau mengekstrak dari tanaman masih dimungkinan, misalnya vitamin E dari kedelai, namun ongkos produksinya sungguh mahal. Lagi pula langkah-langkah itu juga menghancurkan lingkungan sebab proses ekstraksi memerlukan pelarut kimia yang sanggup menjadi racun.

Dalam problem komplemen asam lemak omega-3 yang sungguh penting untuk kesehatan manusia, lebih banyak didominasi komplemen berasal dari ikan. Hal ini disangka memunculkan populasi ikan yang merupakan sumber omega-3 menurun.

Sebagai gantinya, industri farmasi kini menciptakan materi sintesisnya. "Kebanyakan dibuat dari reaksi kimia yang memakai katalis seumpama panas, asam, atau tekanan, untuk menciptakan struktur molekuler dua atau lebih zat kimia dalam vitamin.

Ada juga yang berasal dari teknik bioteknologi yang biasanya memakai mikroba yang sanggup menciptakan vitamin. Vitamin B12 secara tidak eksklusif juga berasal dari bakteri.

Namun banyak vitamin yang dibentuk secara sintetik dari materi kimia yang berasal dari limbah industri. Misalnya vitamin D berasal dari lanolin yang berasal dari wol domba.

"Kebanyakan kasus, hasil vitamin sintesis secara kimia sungguh identik dengan bentuk yang ada di alam. Ini memiliki arti badan kita menggunakannya dalam cara yang serupa juga," tulis Price.

Jika para luar biasa gizi mengusulkan kita untuk mendapat vitamin dari sumber alami bukannya suplemen, tak memiliki arti vitamin sintesis itu buruk. Tapi, masakan alami (buah dan sayuran) mengandung elemen lain yang sungguh beragam, bukan cuma vitamin, yang berharga untuk tubuh.

Tidak siapa saja mujur hidup di daerah yang saluran pada bermacam-macam masakan mudah, misalnya saja sayur, buah, ikat, daging, atau masakan yang difortifikasi (ditambahkan nutrisinya). Untuk mereka yang tidak senantiasa sanggup mendapat bermacam-macam makanan, santunan komplemen vitamin pasti diperlukan.

Suplementasi vitamin A misalnya, di negara-negara Afrika dan negara meningkat lain, sungguh menolong menghalangi kelemahan vitamin A yang sanggup memunculkan rabun senja.

Tetapi mesti diamati pula bahwa konsumsi komplemen vitamin secara tidak sempurna juga justru memiliki pengaruh toksik bagi tubuh. Karena itu jikalau memungkikan, penuhi keperluan badan akan vitamin dari sumber-sumber alami, merupakan sayur, buah, ikan, daging, telur, dan sebagainya.
(sumber)

0 comments:

Post a Comment