Wednesday, December 30, 2020

>> Sejarah Kelam Batavia Tahun 1740 Ricuh Pacinan

Tumpahnya darah etnis Tionghoa di Batavia tahun 1740 menjadi bab sejarah kelam ibukota metropolitan yang gemerlap ini.


Membangun Batavia
Awal kurun ke-17, Belanda memerlukan bantuan dalam pembangunan kota pesisir di Hinda Belanda. Kaum migran Tionghoa melakukan pekerjaan selaku tukang bangunan, buruh pabrik gula dan berdagang. Sebagian tinggal di dalam tembok Batavia, sisanya di luar tembok. Beberapa di antara mereka menjadi kaya alasannya merupakan berdagang, tetapi tak sedikit yang miskin dan dimanfaatkan oleh VOC.

Merosotnya pemasukan VOC
Awal awad ke 17, Kamar Dagang VOC kalah berkompetisi dengan maskapai jualan Inggris, Britisch East India Company. Alhasil VOC sentra menekan VOC Hindia Belanda untuk memaksimalkan pendapatan. Meningkatnya imigran Tionghoa yang masuk ke Batavia bukan lagi dianggap bantuan, melainkan ancaman. Tahun 1719, jumlah etnis Tionghoa lebih dari 7500 jiwa, sementara tahun 1739 melambung jadi lebih dari 10 ribu.

Gula dunia merosot
Di pasar dunia, harga gula yang menjadi andalan VOC menurun, akhir banyaknya ekspor gula ke Eropa. Hal ini membuat pabrik gula di Hindia Belanda terus merugi. Angka pengangguran tergolong para buruh gula Tionghoa di Batavia pun meningkat.

Aturan izin tinggal diperketat
Gubernur Jendral Hindia Belanda dikala itu Adriaan Valckeneir memberlakukan hukum izin tinggal yang ketat. Ancamannya: penjara, denda atau di deportasi. Para etnis Tionghoa kaya merasa diperas. Semenatara itu informasi berkembang, jikalau hukum izin tinggal tak dipenuhi, para buruh dan pengangguranTionghoa dikirim ke Zeylan (Sri Lanka). Etnis Tionghoa didera kecemasan.

Korupsi merajalela
Sementara kaum Tionghoa terdiskriminasi oleh pembatasan itu, oknum pejabat disangka mempergunakan hukum untuk meraup uang ke kocek mereka sendiri. Situasi itu bikin rasa frustrasi yang berlanjut dengan perlawanan kepada VOC. Perlawanan terjadi tanggal 7 Oktober 1740. Ratusan etnis Tionghoa menyerbu pabrik gula, pos-pos keselamatan VOC, disusul serangan ke Benteng Batavia keesokan harinya.

Konflik internal di Dewan Hindia
Kebijakan pembatasan etnis Tionghoa bekerjsama ditentang keras oleh beberapa kelompok lain di Dewan Hindia, misalnya mantan gubernur Zeylan, Gustaaf Willem baron van Imhoff, yang tiba kembali ke Batavia tahun 1738. Namun Valckeneir tetap mengambil langkah-langkah tegas dan mematikan dalam menanggulangi kerusuhan di bawah otoritasnya.

Pecah pemberontakan
Situasi itu bikin rasa frustrasi yang berlanjut dengan perlawanan kepada VOC. Perlawanan memuncak pada tanggal 7 Oktober 1740. Ratusan etnis Tionghoa menyerbu pabrik gul, pos-pos keselamatan VOC, disusul serangan ke Benteng Batavia kesokan harinya.

Pembumihangusan rumah kaum Tionghoa
9 Oktober 1740, prajurit VOC menanggulangi pemberontakan, berbalik mengejar pemberontak. Rumah-rumah & pasar warga Tionghoa dibumihanguskan. Ratusan warga Tionghoa lari ke kali, dikejar & dibantai tanpa ampun. Kali Angke & Kali Besar banjir darah. Razia etnis Tionghoa berlanjut. Bahkan Dewan Hindia prospektif kado per kepala etnis Tionghoa yang dipancung. Hal itu memancing etnis lain ikut memburu.

Gustaaf Willem van Imhoff gantikan van Valkeneir
Diperkirakan cuma sekitar 600 sampai 3000 etnis Tionghoa yang selamat akhir peristiwa itu. Valckeneir ditarik kembali ke Belanda dan tahun 1742 ia digantikan Gustaaf Willem Imhoff yang sukses meyakinkan pemegang saham utama VOC, bahwa Valckenier yang menyebabkan pembantaian di Batavia.
(sumber)

0 comments:

Post a Comment